“Tak Mau Jauh dari Doa Ibu: Camat MKS ‘Kejar’ Bus Haji, Bukti Cinta yang Tak Pernah Selesai”
BUKITTINGGI, D'ane News ID — Suasana haru menyelimuti momen Pelepasan Jemaah Haji Kota Bukittinggi Tahun 2026, ketika ratusan calon jamaah memulai perjalanan suci menuju Tanah Suci.
Sebanyak 253 Calon Jamaah Haji (CJH) yang tergabung dalam kloter 7 resmi dilepas oleh Wali Kota Bukittinggi, H. M. Ramlan Nurmatias, bersama Ketua TP PKK Kota Bukittinggi, Kamis (30/04). Rombongan ini diberangkatkan menuju Embarkasi Padang sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah pada Jumat, 1 Mei 2026.
Di tengah rangkaian seremoni yang berlangsung khidmat, terselip satu momen sederhana yang justru paling membekas—sebuah potret cinta yang tidak tercantum dalam susunan acara, namun terasa paling nyata.
Camat Mandiangin Koto Selayan, Fachrul Razi, SE.,MM.,Kp Datuak Parpatiah tampak bergegas, bahkan berlari kecil di sisi jalan, mengejar bus yang perlahan mulai bergerak. Bukan karena ada tugas yang tertinggal, bukan pula karena protokol yang terlewat. Di dalam bus itu, ada sosok yang jauh lebih penting dari jabatan apa pun: ibunya, Yunizar, yang akrab ia panggil dengan penuh kasih, “One.”
Pemandangan itu seketika mencuri perhatian. Di saat banyak orang cukup melambaikan tangan dari kejauhan, Fachrul Razi memilih mendekat—seolah tak ingin membiarkan jarak hadir terlalu cepat antara dirinya dan “One”, perempuan yang telah menjadi sumber doa sepanjang hidupnya.
Ada yang tersenyum melihatnya, ada pula yang terdiam haru. Sebab di balik langkah cepat itu, tersimpan cerita lama yang selalu relevan: kasih ibu sepanjang jalan, dan cinta anak yang tak pernah ingin selesai.
Saat dikonfirmasi awak media melalui pesan singkat WhatsApp, Fachrul Razi menyampaikan harapannya dengan sederhana namun penuh makna.
“One berangkat dari dengan mamak. Saya berharap One dan mamak selalu dilindungi Allah, diberi kesehatan selama menjalankan ibadah haji. Sehat perginya, sehat pula pulangnya,” ungkapnya.
Ia juga mengenang sosok ibunya bukan hanya sebagai seorang ibu di rumah, tetapi juga perempuan yang pernah berperan aktif di tengah masyarakat.
“One dulunya pernah menjadi Ketua TP PKK Kelurahan Gulai Bancah, sekitar tahun 1987, saat ayah kami, H. Amsar Dt. Limbago Sati, ditugaskan sebagai Lurah Kubu Gulai Bancah di Kecamatan MKS,” tambahnya.
Jejak pengabdian itu seolah menjadi garis takdir yang berlanjut. Dari seorang ayah yang pernah menjadi lurah, kini sang anak mengemban amanah sebagai camat di wilayah yang sama. Sebuah perjalanan yang bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang nilai, teladan, dan warisan pengabdian dalam keluarga.
Momen berlari kecil di sisi jalan itu pun terasa lebih dari sekadar refleks emosional. Ia adalah simbol dari perjalanan panjang—dari seorang anak Pak Lurah, hingga kini menjadi seorang camat, yang tetap menempatkan ibunya sebagai pusat dari segala doa dan langkah hidupnya.
Sejak kecil, “One” tak pernah lelah “mengejar” kehidupan anaknya—menjaga, membimbing, dan menyelipkan doa di setiap langkah. Hari itu, dalam potongan waktu yang singkat, seolah peran itu berbalik. Sang anaklah yang berlari, bukan untuk mendahului, tetapi untuk tetap dekat—meski hanya beberapa detik lebih lama.
Bus itu akhirnya melaju, perlahan menjauh dari kerumunan. Langkah sang camat pun ikut melambat, lalu berhenti. Namun satu hal yang tidak ikut menjauh adalah rasa.
Karena sejatinya, hubungan antara ibu dan anak tidak pernah benar-benar terpisah. Ia hidup dalam doa, dalam rindu, dan dalam keyakinan yang tak terucap.
Dan mungkin, di hari itu, Fachrul Razi tidak sedang mengejar bus.
Ia hanya sedang memastikan… bahwa cintanya kepada “One” tidak pernah tertinggal.
D'ane News ID- Menyingkap Fakta Di Tengah Peristiwa
