Bukan Soal Jalan Rusak, Warga Tarok Dipo Justru Minta Lingkungan Diselamatkan, Arnis Malin Palimo: Masjid Harus Kembali Jadi Benteng Generasi
BUKITTINGGI, D'ane News ID – Di saat banyak agenda reses identik dengan usulan pembangunan fisik, suasana berbeda justru terasa di Mushala Nur Rabbani, Kelurahan Tarok Dipo, Kamis (6/8/2026). Warga tidak lagi sekadar berbicara soal drainase, jalan, atau lampu penerangan. Mereka datang membawa kegelisahan yang dinilai jauh lebih serius, yakni kondisi sosial generasi muda dan ketertiban lingkungan yang mulai mengusik rasa aman masyarakat.
Aspirasi tersebut mengemuka dalam reses Anggota DPRD Kota Bukittinggi Daerah Pemilihan Kecamatan Guguak Panjang, H. Arnis Malin Palimo, S.Pd, yang dihadiri Camat Guguak Panjang H. Heru Tri Astanawa, S.Pd.I., MM, Tuanku Nan Satida, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga Tarok Dipo.
Pemilihan mushala sebagai lokasi reses bukan sekadar soal tempat. Di tengah hiruk pikuk persoalan kota, rumah ibadah dipilih sebagai ruang dialog yang lebih teduh agar aspirasi masyarakat lahir dari hati nurani, bukan sekadar daftar permintaan.
Dalam forum tersebut, satu per satu warga menyampaikan keresahan yang selama ini mereka rasakan. Mulai dari meningkatnya kenakalan remaja, pergaulan bebas, hingga keberadaan rumah kos dan kontrakan yang dinilai perlu mendapat pengawasan lebih serius agar tidak memicu persoalan baru di lingkungan.
Ironisnya, ketika pembangunan fisik terus berjalan, warga justru mengingatkan bahwa pembangunan karakter tidak boleh tertinggal. Sebab, semegah apa pun bangunan yang berdiri, akan kehilangan makna apabila ketenteraman sosial mulai tergerus.
Masyarakat meminta pemerintah kelurahan bersama aparat terkait memperkuat pengawasan terhadap rumah kos dan kontrakan. Mereka juga berharap pemuda, pengurus masjid, ninik mamak, serta tokoh masyarakat semakin aktif menjaga lingkungan melalui pendekatan persuasif dan pembinaan berkelanjutan.
Dalam dialog itu juga muncul aspirasi mengenai fenomena LGBT yang menjadi perhatian sebagian warga. Arnis menjelaskan bahwa aspirasi tersebut pernah diusulkan untuk menjadi bagian pembahasan peraturan daerah. Namun, proses penyusunannya masih harus melalui berbagai tahapan dan mekanisme sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurutnya, apa pun bentuk persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, penyelesaiannya harus dilakukan secara bijaksana melalui jalur edukasi, pembinaan, penguatan nilai agama, serta pendekatan yang sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku.
Karena itu, forum reses turut mendorong penguatan kegiatan keagamaan di masjid dan mushala. Pengajian magrib, subuh berjamaah, hingga pembinaan remaja masjid dinilai perlu kembali dihidupkan agar rumah ibadah benar-benar menjadi pusat pembentukan karakter generasi muda.
Selain menyerap aspirasi sosial, Arnis juga memaparkan sejumlah program yang telah berjalan. Salah satunya pelatihan UMKM bagi kaum ibu di Kecamatan Guguak Panjang yang telah selesai dilaksanakan dan dinilai memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi keluarga.
Di bidang sosial, ia juga mengungkapkan adanya rencana bantuan bagi lansia dan keluarga kurang mampu. Meski kemampuan keuangan daerah masih terbatas, perhatian terhadap kelompok rentan tetap menjadi prioritas yang akan diperjuangkan melalui mekanisme anggaran.
![]() |
| H. Arnis Malin Palimo, S.Pd, didampingi tokoh agama dan unsur pemerintah saat mendengarkan langsung berbagai aspirasi warga dalam dialog reses di Kelurahan Tarok Dipo. |
Arnis mengakui ruang gerak pemerintah dan DPRD saat ini memang tidak seluas yang diharapkan akibat keterbatasan fiskal daerah. Karena itu, ia memilih memusatkan perhatian pada tiga prioritas utama, yakni pembinaan generasi muda melalui kegiatan keagamaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui UMKM, serta penguatan fungsi masjid dan mushala sebagai pusat pendidikan umat.
Di penghujung reses, seluruh pihak sepakat bahwa menjaga kampung bukan hanya tugas pemerintah. Ketertiban lingkungan, pembinaan generasi muda, dan kenyamanan masyarakat hanya dapat terwujud apabila pemerintah, tokoh agama, pemuda, dan warga berjalan bersama. Sebab, persoalan sosial tidak cukup diselesaikan dengan rapat dan regulasi, tetapi juga dengan kepedulian yang terus hidup di tengah masyarakat.
Penulis: Yane Yolanda
Editor: D'ane News ID


