PM2.5 Bukit Kototabang Capai Kategori Tidak Sehat, BMKG Ungkap Pengaruh Asap Karhutla
![]() |
| ILUSTRASI — Kondisi kualitas udara di Kota Bukittinggi. Data BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Stasiun GAW Bukit Kototabang mencapai kategori Tidak Sehat pada 5–7 September 2026. |
BUKITTINGGI, D’ANE NEWS ID — Konsentrasi partikulat udara PM2.5 di Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang mengalami peningkatan signifikan pada awal September 2026 dan mencapai kategori Tidak Sehat selama tiga hari berturut-turut, yakni 5–7 September 2026. Berdasarkan monitoring dan prakiraan BMKG yang diperbarui pada 8 September 2026, kondisi kualitas udara di wilayah Bukittinggi dan sekitarnya berada pada kategori Sedang dan diprakirakan berangsur membaik.
Data monitoring Stasiun GAW Bukit Kototabang menunjukkan konsentrasi PM2.5 pada 1 September berada di angka 18 µg/m³, kemudian 17 µg/m³ pada 2 September, 22 µg/m³ pada 3 September dan 16 µg/m³ pada 4 September.
Peningkatan signifikan terjadi mulai 5 September. Konsentrasi PM2.5 tercatat 61 µg/m³ dan masuk kategori Tidak Sehat. Angka tersebut meningkat menjadi 71 µg/m³ pada 6 September, kemudian berada di angka 61 µg/m³ pada 7 September. Ketiga hari tersebut sama-sama berada dalam kategori Tidak Sehat.
Sementara itu, konsentrasi PM10 tercatat 72 µg/m³ pada 5 September, 84 µg/m³ pada 6 September, dan 70 µg/m³ pada 7 September. Ketiganya berada dalam kategori Sedang.
BMKG Sebut Pengaruh Asap dari Sejumlah Wilayah
BMKG menyebut penurunan kualitas udara yang terjadi di Sumatera Barat, termasuk Bukittinggi, secara umum dipengaruhi oleh angin timuran, yakni angin dari arah Timur–Tenggara–Selatan, yang membawa asap dari wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti Jambi, Sumatera Selatan dan Riau.
![]() |
| Data monitoring Stasiun GAW Bukit Kototabang menunjukkan konsentrasi PM2.5 meningkat dan mencapai kategori Tidak Sehat pada 5–7 September 2026. (Dok. BMKG) |
Berdasarkan monitoring BMKG pada 8 September 2026, arah angin di wilayah Bukittinggi berasal dari timur, dengan kecepatan 0–1,39 meter per detik. Data arah dan kecepatan angin tersebut bersumber dari NOAA.
Empat Hotspot Terpantau dengan Kepercayaan Tinggi
BMKG juga mencatat adanya sejumlah titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera Barat.
Hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang didominasi wilayah Pesisir Selatan, Solok Selatan, Dharmasraya dan Pasaman.
Sementara itu, terdapat empat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, yakni dua titik di Pesisir Selatan dan dua titik di Solok Selatan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kualitas udara di Sumatera Barat, di samping pengaruh asap dari wilayah lain dan minimnya curah hujan.
Bukittinggi Diprakirakan Berangsur Membaik
Meski konsentrasi PM2.5 di Stasiun GAW Bukit Kototabang mengalami peningkatan dalam beberapa hari sebelumnya, BMKG memprakirakan kualitas udara Bukittinggi dan sekitarnya pada 8 September berada dalam kategori Sedang.
BMKG memperkirakan kondisi tersebut akan membaik secara bertahap dalam beberapa hari berikutnya. Dalam prakiraan yang diperbarui 8 September, kondisi kategori Sedang diperkirakan masih bertahan sekitar dua hari ke depan, meskipun pada jam tertentu dapat turun ke kategori Baik. Selanjutnya, pada 11 September 2026, kualitas udara Bukittinggi diprakirakan berada pada kategori Baik.
![]() |
| Data monitoring BMKG menunjukkan arah angin di wilayah Bukittinggi pada 8 September 2026 berasal dari arah timur dengan kecepatan 0–1,39 meter per detik. (Dok. BMKG/NOAA) |
Dengan demikian, kondisi kualitas udara yang sebelumnya mengalami peningkatan partikulat di kawasan pemantauan GAW Bukit Kototabang menunjukkan adanya kecenderungan perbaikan untuk wilayah Bukittinggi berdasarkan prakiraan BMKG.
BMKG Imbau Kelompok Rentan Batasi Aktivitas di Luar Ruangan
BMKG mengimbau masyarakat umum masih dapat melakukan aktivitas di luar ruangan seperti biasa dengan menggunakan masker jika diperlukan.
Namun, bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita ISPA atau gangguan pernapasan, BMKG menganjurkan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diimbau tetap memperhatikan perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca, terutama selama konsentrasi partikulat masih mengalami fluktuasi.
D’ANE NEWS ID — Menyingkap Fakta di Tengah Peristiwa.


