BREAKING NEWS

Rohana Kudus: Ketika Pena Perempuan Minangkabau Menjadi Senjata Perubahan

Oleh: Yane Yolanda

Rohana Kudus, tokoh perempuan Minangkabau yang menjadikan pendidikan, tulisan dan pers sebagai jalan perjuangan untuk membuka ruang bagi perempuan pada zamannya. Kredit: Wikimedia Commons/MelayuOnline; pencipta tidak diketahui.



D’ane News ID — Menyingkap Fakta di Tengah Peristiwa

Ada sebuah masa ketika suara perempuan tidak mudah terdengar di ruang publik.

Bukan karena perempuan tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Tetapi karena kesempatan untuk belajar, membaca, menulis dan menyampaikan gagasan belum terbuka luas bagi mereka.

Di tengah suasana seperti itulah, dari sebuah nagari kecil di Minangkabau, seorang perempuan memilih jalan yang mungkin pada zamannya terdengar sederhana: belajar.

Namun, dari kebiasaan membaca dan menulis itulah kemudian lahir sesuatu yang jauh lebih besar.

Sebuah sekolah.

Sebuah gerakan pendidikan.

Sebuah surat kabar.

Dan sebuah suara perempuan yang menembus batas zamannya.

Perempuan itu bernama Rohana Kudus.

Tetapi kisah Rohana bukan sekadar kisah tentang seorang perempuan yang pandai menulis.

Ada sesuatu yang lebih menarik di balik perjalanan hidupnya.

Sebab bagi Rohana, pena bukan hanya alat untuk menuliskan kata-kata. Pena adalah cara untuk membuka pintu yang selama ini tertutup.

Dan pintu pertama yang ingin dibukanya adalah pendidikan.

Ketika belajar menjadi sebuah perjuangan

Rohana Kuddus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884.

Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberikan ruang baginya untuk mengenal pengetahuan. Sejumlah kajian akademik mencatat bahwa Rohana tidak memperoleh pendidikan formal seperti sistem sekolah yang berkembang kemudian. Ia justru banyak belajar secara autodidak melalui membaca dan memanfaatkan bahan bacaan yang tersedia.

Di sinilah perjalanan Rohana mulai menjadi menarik.

Sebab ketika sebagian orang mungkin melihat kemampuan membaca sebagai sesuatu yang biasa, Rohana justru melihatnya sebagai jalan menuju pengetahuan.

Ia membaca.

Ia belajar.

Ia kemudian mengajarkan apa yang diketahuinya kepada perempuan lain.

Dan perlahan, kegiatan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Rohana tampaknya memahami satu hal yang sederhana tetapi mendasar:

perempuan yang memiliki pengetahuan akan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan kehidupannya.

Gagasan itu kemudian tidak berhenti di rumah.

Ia dibawa ke tengah masyarakat.

Dari ruang belajar menuju Kerajinan Amai Setia

Pada 1911, Rohana mendirikan Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang.

Lembaga tersebut bukan hanya menjadi tempat perempuan belajar membaca dan menulis. Di sana perempuan juga mendapatkan berbagai keterampilan, termasuk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.


Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang menjadi salah satu jejak perjuangan Rohana Kudus dalam mendorong pendidikan, keterampilan dan kemandirian perempuan Minangkabau.
Kredit: Rhmtdns/Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0.


Perjuangan Rohana ternyata tidak berhenti pada kalimat:

perempuan harus berpendidikan.

Ia membawa gagasan itu lebih jauh:

pendidikan harus bisa membuat seseorang memiliki kemampuan.

Dan kemampuan, jika dikembangkan, dapat menjadi kemandirian.

Perempuan diajarkan membaca.

Perempuan diajarkan menulis.

Perempuan diajarkan keterampilan.

Dan keterampilan tersebut memiliki nilai ekonomi.

Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti di kepala.

Ia masuk ke kehidupan sehari-hari.

Tetapi Rohana rupanya belum puas.

Ada sesuatu yang lebih besar yang ingin dilakukannya.

Jika pengetahuan hanya diberikan kepada perempuan yang datang ke tempat belajar, jangkauannya akan terbatas.

Bagaimana kalau pengetahuan itu bisa dikirim kepada perempuan di tempat lain?

Jawabannya kemudian datang dalam bentuk yang sangat sederhana untuk ukuran zaman itu:

surat kabar.

Ketika perempuan mulai memiliki halaman untuk bersuara

Pada 1912, lahirlah Soenting Melajoe.


Lembaran Soenting Melajoe, surat kabar perempuan yang terbit di Padang pada awal abad ke-20 dan menjadi bagian penting dari perjalanan jurnalistik Rohana Kudus. 
 Kredit: Perpustakaan Nasional/Wikimedia Commons — Public Domain.


Surat kabar yang terbit di Padang itu menjadi salah satu ruang penting bagi gagasan perempuan pada masa tersebut.

Arsip Wikimedia Commons mencatat Soenting Melajoe sebagai surat kabar perempuan di Hindia Belanda yang berkedudukan di Padang, berbahasa Melayu, dan mencantumkan Rohana Kudus sebagai pendirinya. Arsip tersebut juga memuat sejumlah edisi tahun 1912 yang sumbernya berasal dari Perpustakaan Nasional.

Dalam penelitian mengenai kiprah Rohana pada periode 1912–1924, Soenting Melajoe disebut sebagai bagian penting dari aktivitas jurnalistik Rohana. Ia berperan sebagai pimpinan redaksi, sementara Zoebaidah Ratna Djoewita tercatat sebagai redaktur.

Di titik inilah perjuangan Rohana memasuki babak baru.

Jika sebelumnya ia mengajarkan perempuan di ruang pendidikan, kini gagasannya dapat menjangkau pembaca yang lebih luas melalui tulisan.

Surat kabar bukan sekadar kumpulan berita.

Ia menjadi ruang percakapan.

Ruang pendidikan.

Ruang untuk membicarakan persoalan perempuan.

Dan ruang untuk mengatakan kepada perempuan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berkembang.

Bayangkan situasinya.

Lebih dari satu abad lalu, ketika mesin pencari belum ada, ketika media sosial belum dikenal, ketika seseorang belum bisa mengetik berita hanya dengan telepon genggam, sebuah surat kabar harus dicetak, diedarkan dan dibaca dari tangan ke tangan.

Namun gagasan bisa berjalan jauh.

Dan Rohana memahami kekuatan tersebut.

Ia menggunakan pena sebagai alat perubahan.

Dulu Ia Menulis di Koran, Hari Ini Kita Membaca Jejaknya


Salah satu jejak tulisan Rohana Kudus dalam Soenting Melajoe, surat kabar perempuan yang menjadi bagian penting dari perjalanan jurnalistiknya.
Sumber: Perpustakaan Nasional/Wikimedia Commons — Public Domain.


Ada cara lain untuk memahami Rohana selain membaca biografinya.

Membaca kembali jejak tulisannya.

Arsip Soenting Melajoe yang kini tersimpan dan didigitalisasi memberikan kesempatan kepada pembaca masa kini untuk melihat bentuk surat kabar yang menjadi bagian dari perjalanan pers perempuan pada awal abad ke-20.

Beberapa edisi Soenting Melajoe tahun 1912 bahkan dapat ditemukan dalam arsip Wikimedia Commons yang bersumber dari Perpustakaan Nasional. Salah satunya adalah edisi 7 Agustus 1912. Arsip tersebut berstatus public domain.

Lihat arsip Soenting Melajoe 7 Agustus 1912

Di hadapan lembaran tua itu, jarak waktu seakan menyusut.

Tulisan yang dahulu dibaca menggunakan lembaran kertas kini dapat dilihat kembali melalui layar.

Huruf-huruf lama yang mungkin terasa asing bagi pembaca modern justru menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah pers Indonesia.

Dan di situlah kita kembali kepada Rohana.

Ia tidak memiliki internet.

Tidak memiliki kamera digital.

Tidak memiliki media sosial.

Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih sederhana:

gagasan.

Lalu gagasan itu dituangkan ke dalam tulisan.

Tulisan kemudian menjadi media.

Dan media menjadi jalan untuk menjangkau masyarakat.

Bagi wartawan hari ini, lembaran Soenting Melajoe bukan sekadar benda sejarah.

Ia adalah pengingat bahwa teknologi media boleh berubah, tetapi pertanyaan tentang untuk apa sebuah tulisan dibuat tetap sama.

Apakah tulisan hanya untuk dibaca?

Atau dapat membuat pembacanya berpikir?

Apakah berita hanya berhenti sebagai informasi?

Atau mampu membuka mata masyarakat terhadap persoalan yang selama ini tidak terlihat?

Lebih dari satu abad lalu, Rohana sudah menggunakan pers untuk membawa gagasan tentang pendidikan dan kemajuan perempuan.

Hari ini, generasi pers digital tinggal meneruskan pertanyaan besarnya:

apa yang kita lakukan dengan kekuatan pena yang sekarang jauh lebih mudah digunakan?

Pena yang mulai bergerak lebih jauh

Rohana kemudian tidak hanya dikenal melalui satu media.

Penelitian mengenai aktivitas jurnalistiknya pada periode 1912–1924 mencatat keterlibatannya dengan sejumlah media lain, termasuk Perempoean Bergerak, Poetri Hindia, Fajar Asia dan Mojopahit.

Pena itu terus bergerak.

Dari satu tulisan ke tulisan berikutnya.

Dari satu media ke media berikutnya.

Dan di balik setiap tulisan terdapat sebuah gagasan yang relatif konsisten:

perempuan harus memiliki pengetahuan.

Tetapi perjalanan tersebut tentu tidak berlangsung tanpa tantangan.

Memperjuangkan pendidikan perempuan pada awal abad ke-20 bukan perkara sederhana.

Ada batas sosial.

Ada pandangan masyarakat.

Ada keterbatasan akses pendidikan.

Ada pula persoalan bagaimana perempuan dapat memperoleh keterampilan yang memungkinkan mereka memiliki kemandirian.

Rohana tidak menjawab semua persoalan itu dengan pidato panjang.

Ia menjawabnya dengan pekerjaan.

Mendirikan ruang belajar.

Mengajarkan keterampilan.

Menulis.

Menerbitkan surat kabar.

Dan terus bergerak.

Dari Koto Gadang menuju Bukittinggi

Perjuangan pendidikan Rohana kemudian berkembang lebih jauh.

Pada 1916, ia mendirikan Ruhana School di Bukittinggi.

Sekolah tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan pendidikannya. Pendidikan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan yang dapat digunakan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada sesuatu yang menarik dari pola perjuangan Rohana.

Ia tidak memisahkan pendidikan dengan kehidupan.

Seorang perempuan tidak cukup hanya bisa membaca.

Ia perlu memiliki keterampilan.

Ia perlu memiliki pengetahuan.

Dan jika memungkinkan, pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Dengan kata lain, pendidikan bagi Rohana bukan sekadar membuat perempuan menjadi pintar. Pendidikan harus membuat perempuan berdaya.

Gagasan itu terdengar sederhana.

Tetapi pada zamannya, gagasan tersebut memiliki daya dobrak yang besar.

Bukan hanya tentang perempuan

Jika membaca kembali perjalanan Rohana secara utuh, ada satu hal yang sering luput.

Perjuangannya memang banyak berbicara tentang perempuan.

Namun, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat perempuan berhadapan dengan laki-laki.

Yang diperjuangkan adalah kesempatan.

Kesempatan memperoleh pendidikan.

Kesempatan mendapatkan keterampilan.

Kesempatan menyampaikan pendapat.

Dan kesempatan untuk ikut menentukan masa depan.

Karena itu, jurnalistik yang dilakukan Rohana juga tidak dapat dilepaskan dari aktivitas pendidikannya.

Tulisan menjadi perpanjangan tangan dari sekolah.

Sekolah menjadi tempat pengetahuan dibangun.

Sedangkan surat kabar menjadi salah satu jalan untuk menyebarkan gagasan.

Pendidikan melahirkan pengetahuan. Pengetahuan melahirkan keberanian. Dan keberanian menemukan jalannya melalui tulisan.

Di situlah kekuatan Rohana.

Lalu, mengapa namanya begitu penting dalam sejarah pers?

Berbagai sumber dan penelitian menyebut Rohana sebagai salah satu pelopor penting pers perempuan Indonesia. Beberapa sumber bahkan menyebutnya sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia, sementara kajian lainnya menggunakan penyebutan yang lebih spesifik dalam konteks Sumatera Barat.

Perbedaan penyebutan itu tidak mengubah satu fakta penting:

Rohana telah memasuki dunia pers ketika ruang tersebut masih sangat terbatas bagi perempuan.

Dan ia tidak datang hanya untuk menjadi pembaca.

Ia menjadi bagian dari orang-orang yang membuat media.

Ia menulis.

Ia mengelola penerbitan.

Ia menyampaikan gagasan.

Ia menggunakan pers sebagai sarana pendidikan.

Karena itu, ketika kita membicarakan sejarah pers perempuan di Indonesia, nama Rohana Kudus sulit dilepaskan dari perjalanan tersebut.

Namun, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting daripada siapa yang pertama.

Apa yang sebenarnya ingin diubah oleh Rohana melalui tulisannya?

Jawabannya dapat ditemukan jika kita kembali melihat seluruh perjalanan hidupnya.

Ia tidak memiliki media sosial.

Tidak ada jumlah followers yang bisa dihitung.

Tidak ada likes.

Tidak ada viral.

Yang ada hanyalah gagasan dan keberanian untuk menyampaikannya.

Lebih dari satu abad kemudian

Hari ini, seorang perempuan dapat menulis dari mana saja.

Dari rumah.

Dari kantor.

Dari kedai kopi.

Bahkan dari pinggir jalan menggunakan telepon genggam.

Sebuah tulisan dapat menyebar dalam hitungan detik.

Satu video dapat ditonton jutaan orang.

Satu unggahan dapat menjangkau pembaca yang bahkan tidak pernah dikenal sebelumnya.

Tetapi justru di tengah kemudahan itu, warisan Rohana menjadi semakin menarik untuk direnungkan.

Sebab teknologi boleh berubah.

Tetapi tanggung jawab terhadap tulisan tetap ada.

Dahulu Rohana menggunakan surat kabar.

Hari ini wartawan menggunakan portal berita dan berbagai platform digital.

Dahulu pembaca menunggu koran datang.

Hari ini berita muncul hampir bersamaan dengan peristiwa.

Namun satu pertanyaan tetap sama:

untuk apa tulisan itu dibuat?

Apakah hanya untuk mengejar perhatian?

Atau untuk memberikan pengetahuan?

Apakah sekadar membuat orang ramai berbicara?

Atau benar-benar membantu masyarakat memahami persoalan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat perjalanan Rohana tetap relevan.

Pengakuan yang datang puluhan tahun kemudian


Rohana Kudus wafat pada 1972.

Tetapi perjalanan sejarah tidak berhenti di sana.

Puluhan tahun kemudian, negara memberikan pengakuan atas perjuangannya.

Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 120/TK/Tahun 2019, Rohana Kuddus ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan tersebut ditandatangani pada 7 November 2019, sementara penganugerahan gelar dilakukan Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 8 November 2019.

Penghargaan itu datang setelah perjalanan panjang seorang perempuan yang sejak muda memilih pendidikan dan tulisan sebagai jalan perjuangan.

Namun, gelar tersebut bukanlah titik akhir dari kisah Rohana.

Justru sejarah memberinya tugas baru kepada generasi setelahnya:

membaca kembali apa yang pernah ia perjuangkan.

Ketika pena menjadi warisan

Pada akhirnya, kisah Rohana Kudus bukan hanya tentang seorang perempuan dari Koto Gadang yang mendirikan sekolah atau terlibat dalam surat kabar.

Lebih dari itu.

Ia adalah kisah tentang seseorang yang melihat keterbatasan, lalu memilih untuk tidak menyerah kepadanya.

Ketika pendidikan terbatas, ia belajar.

Ketika perempuan membutuhkan ruang belajar, ia mendirikannya.

Ketika gagasan membutuhkan ruang yang lebih luas, ia menggunakan pers.

Ketika keterampilan dibutuhkan untuk membangun kemandirian, ia mengajarkannya.

Dan ketika suara perempuan belum banyak terdengar, ia memilih untuk menulis.

Mungkin itulah sebabnya kisah Rohana tetap menarik untuk dibaca lebih dari satu abad kemudian.

Bukan karena ia hidup di masa lalu.

Tetapi karena pertanyaan yang diperjuangkannya masih hidup sampai hari ini.

Tentang pendidikan.

Tentang kesempatan.

Tentang kemandirian.

Tentang keberanian bersuara.

Dan tentang tanggung jawab ketika seseorang memegang pena.

Sebab pena, pada akhirnya, hanyalah benda.

Yang membuatnya memiliki kekuatan adalah gagasan dan keberanian orang yang menggunakannya.

Rohana Kudus telah membuktikannya.

Dari Koto Gadang, seorang perempuan mengambil pengetahuan yang dimilikinya, kemudian membagikannya kepada perempuan lain.

Dari ruang belajar, gagasan itu bergerak ke surat kabar.

Dari surat kabar, ia menjangkau pembaca.

Dan dari tulisan-tulisan itu, lahirlah jejak yang akhirnya tercatat dalam sejarah bangsa.

Lebih dari seratus tahun kemudian, dunia telah berubah.

Tetapi satu pesan dari perjalanan Rohana masih terasa dekat:

jangan pernah meremehkan kekuatan seseorang yang memiliki pengetahuan, keberanian untuk bersuara, dan sebuah pena untuk menuliskannya.

Karena terkadang, perubahan besar memang tidak dimulai dari tempat yang besar.

Ia bisa dimulai dari sebuah ruang kecil.

Dari seorang perempuan yang mau belajar.

Dan dari sebatang pena.

Rohana Kudus: ketika pena perempuan Minangkabau menjadi senjata perubahan.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar