Dari Produk Lokal ke Layar Ponsel, Asril Dorong UMKM Bukittinggi–Agam Tembus Pasar Digital
BUKITTINGGI, D’ANE NEWS ID — Wisatawan yang menginap di hotel tidak selalu memiliki waktu untuk berburu oleh-oleh ke berbagai toko. Namun, bagaimana jika rendang, keripik, kopi lokal, hingga songket Minangkabau bisa ditemukan melalui ponsel dan dipesan untuk diantar langsung ke hotel?
Peluang inilah yang menjadi salah satu gagasan penting dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penumbuhan Entrepreneur yang diinisiasi Asril, SE, anggota Komisi II DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi Partai NasDem, bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat.
Kegiatan selama dua hari, Rabu–Kamis (28–29 Oktober 2026), di Aula UPTD Balai Pelatihan dan Penyuluhan Pertanian Disbuntanhor Provinsi Sumatera Barat itu diikuti 70 peserta dari Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, yang bergerak di bidang UMKM, kuliner, perhotelan, homestay, dan perjalanan wisata.
Bagi kawasan Bukittinggi–Agam yang memiliki potensi pariwisata, tantangannya bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memastikan kunjungan mereka memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
![]() |
| Para peserta mengikuti kegiatan Bimtek Penumbuhan Entrepreneur yang membahas penguatan usaha, pengelolaan bisnis, serta strategi pemasaran untuk memperluas jangkauan pasar. |
Empat Pilar Penguatan Pariwisata
Dalam keterangannya pada Kamis (29/10/2026), Asril menegaskan bahwa pengembangan pariwisata membutuhkan kesamaan persepsi dan kerja sama berbagai pemangku kepentingan.
“Kita satukan persepsi bagaimana kita bisa meningkatkan pariwisata di daerah kita, khususnya Bukittinggi–Agam. Kita tahu banyak potensi-potensi yang bisa dijadikan destinasi wisata. Di situ kita bangun dengan empat pilar untuk menjadi penyangga yang kuat,” ujar Asril.
Empat pilar tersebut meliputi pembangunan destinasi wisata, pembangunan industri pariwisata, pembangunan kelembagaan, serta pembentukan atau penguatan badan promosi pariwisata.
Menurutnya, kelembagaan yang kuat dapat membantu pelaku usaha berbenah, meningkatkan koordinasi, dan membuka peluang pembinaan maupun dukungan program pemerintah. Sementara itu, promosi diperlukan agar potensi wisata daerah semakin dikenal calon pengunjung.
Gagasan tersebut menjadi landasan untuk memperkuat keterhubungan antara destinasi wisata, industri pendukung, dan produk lokal yang dihasilkan masyarakat.
Digitalisasi untuk Mempertemukan Produk dan Wisatawan
Ketua DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Barat, H. Syafril, S.ST.Par., M.Par., menilai pemasaran digital dapat membantu UMKM menjangkau konsumen yang tidak sempat mengunjungi toko secara langsung.
Menurut Syafril, upaya digitalisasi perlu disertai pembenahan kualitas produk, mulai dari kemasan, rasa, hingga kehalalan, agar produk lokal siap bersaing dan memenuhi harapan konsumen.
Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan platform digital bernama Made in Minang, yang diharapkan menjadi wadah untuk menghimpun produk UMKM dan memudahkan wisatawan menemukan oleh-oleh khas daerah.
Dalam konsep yang disampaikannya, wisatawan nantinya dapat memindai kode QR di hotel untuk melihat pilihan produk dan melakukan pemesanan. Rencana tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama antara UMKM, hotel, dan jasa pengantaran.
Namun, pengembangan platform itu masih memerlukan tindak lanjut agar rencana tersebut benar-benar dapat diterapkan.
Ramai Dilihat Belum Tentu Menghasilkan Penjualan
Founder Cita Media Optimasi sekaligus praktisi strategi pemasaran digital, Nanang Sarwandi, mengingatkan bahwa kehadiran produk di media sosial maupun platform digital tidak otomatis menghasilkan transaksi.
“Ramai yang melihat belum tentu ramai yang membeli,” tegas Nanang.
Menurutnya, pelaku usaha perlu memahami siapa calon pelanggan mereka, apa kebutuhannya, serta bagaimana mengarahkan calon pembeli dari tahap mengenal produk hingga melakukan transaksi.
Ia menyarankan UMKM memanfaatkan sarana yang mudah dijangkau, seperti media sosial yang sesuai dengan target pasar, WhatsApp Business, katalog produk yang jelas, dan pencatatan calon pelanggan.
Keberhasilan pemasaran, lanjutnya, tidak cukup diukur dari jumlah pengikut atau tayangan. Pelaku usaha juga perlu mengetahui berapa orang yang menghubungi mereka, berapa yang tertarik membeli, dan berapa transaksi yang benar-benar terjadi.
Dengan demikian, strategi promosi dapat dievaluasi dan diperbaiki sesuai hasil yang diperoleh.
Peserta Berharap Ada Pendampingan Lanjutan
Manfaat pelatihan juga dirasakan dari sisi peserta. Farid, salah seorang peserta dari Baso, Kabupaten Agam, menyebut materi mengenai pencatatan arus kas, penentuan harga pokok produksi, dan strategi pemasaran sebagai bekal penting untuk mengelola usaha secara lebih terarah.
“Ilmu ini sangat dibutuhkan karena selama ini banyak hal yang saya lakukan secara perkiraan saja, sehingga seringkali tidak tahu pasti berapa keuntungan yang sebenarnya,” ungkap Farid.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Menurutnya, pendampingan lanjutan dan pembentukan wadah komunikasi antarpeserta diperlukan agar mereka dapat berkonsultasi, berbagi pengalaman, serta membuka peluang kerja sama.
Harapan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui promosi. Kemampuan mengelola keuangan, menjaga kualitas produk, membangun jaringan, dan mengevaluasi penjualan juga menentukan keberlanjutan usaha.
Melalui Bimtek Penumbuhan Entrepreneur ini, penguatan pariwisata, pemasaran digital, dan peningkatan kapasitas pelaku usaha diharapkan dapat berjalan beriringan.
Bagi Bukittinggi–Agam, peluangnya terbuka: wisatawan tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga mengenal dan membeli produk lokal. Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan tersebut ditindaklanjuti melalui kerja sama dan pendampingan yang berkelanjutan, sehingga potensi daerah benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
[Yane Yolanda | D'ane News ID- ]
D’ANE NEWS ID — Menyingkap Fakta di Tengah Peristiwa.



